Cerita Prajurit Atasi Kebakaran Hutan: Bekal Sendiri dan Rogoh Gaji



Pratu Wahyudi, prajurit Detasemen Rudal 004 Dumai, Provinsi Riau ditemukan tewas di hutan dekat Kampung Medan Tangga Besar Kecamatan Bangko Kabupaten Rohil, Riau. 

Jenazah Pratu Wahyudi baru ditemukan setelah enam hari dinyatakan hilang. Pratu Wahyudi hilang saat memadamkan kebakaran hutan. Ketika ditemukan, tubuh Pratu Wahyudi penuh luka bakar. 

Kematian Pratu Wahyudi adalah sepenggal cerita sedih dari perjuangan prajurit TNI memadamkan api di hutan. Sulitnya sumber air, dan minimnya peralatan membuat anggota TNI harus bekerja ekstra keras.

"Kadang hanya pakai ember," kata Kasi Ops Korem 031/Wirabima yang juga Kepala Operasi Pemadaman Lahan Kol (Inf) Saad Miyanta di Pekanbaru, Rabu (24/08/2016).

Saad menggambarkan, sulitnya memadamkan api. Prajurit TNI harus membuat tempat penampungan air atau embung terlebih dahulu. "Dan itu membutuhkan alat berat untuk menggali tanah," kata Saad.

Tapi, alat berat jarang tersedia. Seringkali TNI meminta alat berat ke perusahaan sekitar. Itupun sulit juga. 
"Meski begitu kami diinstruksikan tetap bekerja supaya tidak ada peningkatan status kebakaran dan tidak dihujat," katanya.

Dikatakan Saad, anggaran untuk pemadaman kebakaran hutan tidak memadai. Prajurit TNI terkadang harus membawa bekal sendiri saat memasuki hutan. "Selama ini bekal sendiri, kadang ada juga dari bupati atau perusahaan mendukung," kata dia.

Satgas pemadaman kebakaran hutan yang dikomandoi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), katanya, tidak mempunyai anggaran karena tidak ada nomenklaturnya. Yang bisa membantu adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Tapi, harus berstatus tanggap darurat. Sementara, status Riau baru siaga.

"Jadi kami makan bawa sendiri dari rumah, ransum tunggal istilahnya. Gaji rogoh sendiri digunakan untuk operasi," ungkapnya. 

Dia heran, jika banyak warga yang menghujat TNI lantaran lamban memadamkan api. "Kalau masih dihujat tidak apa-apa. Ayo coba ikut ke sana, masker di sana tidak berguna, apalagi kalau masker yang kain," tambahnya.

Pasukan tambahan dari satuan lain dari Medan dan Payakumbuh pun tidak bisa diikutkan untuk memadamkan api. "Tapi, siapa yang akan memberikan makan," kata dia.

Bantuan hanya sukarela saja dari perusahaan dan bupati. Padahal satgas penindakan darat menurutnya adalah yang paling berat kerjanya karena asap.

Di Riau, ada 400 prajurit TNI yang telah ditempatkan di wilayah rawan kebakaran. Prajurit bertaruh nyawa untuk berjibaku melawan si jago merah.

Pernah, kata Saad, tahun lalu, tiga prajurit nyaris meregang nyawa. "Apalagi kena angin berputar itu, tahun 2015 yang lemas ada dua orang hampir mati. Tiga hari baru sembuh," ujarnya.

Dia juga berkisah, pernah ada mahasiswa yang ikut bergabung dalam satgas pemadaman di Rimbo Panjang Kabupaten Kampar. Tapi, lagi-lagi, hanya mampu bertahan selama empat hari.

"Masyarakat juga hanya dua hari sanggup bergabung karena tidak ada uang makan. Dua hari tidak kerja tak bisa cari makan nanti katanya," sebutnya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Riau, Yulwiriati mengaku telah memberikan bantuan, termasuk mengeluarkan kocek anggaran dana desa untuk peralatan.

Kata dia, penyediaan anggaran dalam APBD Provinsi dan Kabupaten Kota untuk pencegahan dan pemadaman terhambat regulasi. Sebab, bantuan sosial tidak bisa diberikan kepada masyarakat yang tidak berbadan hukum.[Sumber : rimanews.com]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NO EDIT! TANGAN BU GURU INI JADI 3 SAAT BERFOTO DI KERETA KENCANA

VIDEO DETIK-DETIK PNS SELINGKUH DIGEREBEK SUAMI SENDIRI, TERNYATA SUDAH TIGA KALI...

Minta Uang RP 200rb Kepada Sopir Pengangkut Barang Seorang Polisi Nyaris Tewas Di Bacok