Hukum Mati WN Nigeria, Hakim: Semua yang Terlibat Narkotika Harus Ditumpas



Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta menjatuhkan hukuman mati kepada WN Nigeria Emeka Samuel (31) karena mengedarkan 37 kg sabu. Majelis hakim menegaskan siapa pun yang terlibat kejahatan narkotika harus ditumpas.

Kasus bermula kala anggota BNN menangkap Afif Junaedi dan Rosita Said di Jalan Bandengan Selatan pada 21 Agustus 2015. Ikut pula dibekuk kurir lainnya, Rubiyanti Hasyim. Dari penangkapan itu, aparat menelusuri bos dua orang itu dan membekuk Emeka Samuel. 

Mereka berempat lalu digelandang ke markas BNN dan terungkap Samuel menjanjikan Afif Rp 80 juta apabila berhasil mengirim paket sabu. Jumlah Rp 80 juta itu dibagi dengan komplotan lainnya. Total barang bukti yang diamankan sebesar 37 kg sabu. Keempatnya diadili dalam berkas terpisah.

Pada 26 April 2016, Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) menjatuhkan hukuman mati kepada Emeka. Vonis itu sesuai dengan tuntutan jaksa. Atas hukuman itu, Emeka tidak terima dan menyatakan banding. 

"Menguatkan putuan Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut)," kata majelis Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta sebagaimana dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Jumat (9/9/2016).

Duduk sebagai ketua majelis Imam Sungudi dengan anggota Elnawisah dan Humuntal Pane. Hukuman mati menurut hemat Pengadilan Tinggi telah tepat dan sangat layak, mengingat jumlah barang bukti yang begitu banyak karena barang bukti narkotika yang begitu banyak, pastilah mengakibatkan daya rusak yang luas dan banyak.

"Bahwa Indonesia sebagai negara besar dengan jumlah penduduk yang cukup banyak haruslah diproteksi dari ancaman peredaran bangsa dan negara sekiranya terlanjur diedarkan di masyarakat narkotika yang ilegal telah terlalu banyak rakyat yang menjadi korban," cetus majelis.

Bahkan, lanjut majelis, beberapa survei yang dilakukan menunjukkan bahwa korban akibat narkotika setiap harinya di Indonesia meninggal dunia sekitar 50 orang. Belum termasuk korban yang jatuh sakit dan hidup secara sia-sia dan menjadi beban bagi keluarganya dan masyarakat pun bagi negara semata-
mata karena narkotika.

"Semua komponen bangsa Indonesia harus berupaya memerangi peredaran narkotika ilegal dengan cara-cara yang sesuai dengan aturan hukum negara Indonesia," demikian pertimbangan majelis.

Majelis menyitir sejarah negara Cina yang besar pernah ditaklukkan oleh Inggris, setelah terlebih dahulu di seluruh Negara Cina beredar bebas candu (salah satu jenis Narkotika). Rakyat Cina, pegawai serta tentaranya dan penyelenggara negaranya menjadi pengguna candu tersebut.

"Akibatnya Negara Cina yang besar itu menjadi lemah tidak berdaya karena dirusak narkotika, sehingga dalam kondisi yang demikian Negara Cina tersebut dengan mudah ditaklukkan oleh Inggris, dan karena negara Cina takluk maka untuk mengakhiri perang ini yang dulu disebut Perang Candu tahun 1839 sampai dengan tahun 1842 diadakanlah Perjanjian Nanjing, maka Hong Kong satu pulau bagian dari Cina diserahkan ke Negara Inggris dan menjadi bagian dari Negara Inggris selama 100 tahun," papar majelis.

"Oleh karena itu hukum haruslah menjadi panglima dalam mencegah dan memberantas narkotika ini, agar negara Indonesia tetap tegak dan kuat dalam membangun NKRI. Oleh karena dan hukuman mati menjadi salah satu cara yang efektif untuk mencegah dan menumpas kejahatan narkotika," pungkas majelis. [Sumber : detik.com]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NO EDIT! TANGAN BU GURU INI JADI 3 SAAT BERFOTO DI KERETA KENCANA

VIDEO DETIK-DETIK PNS SELINGKUH DIGEREBEK SUAMI SENDIRI, TERNYATA SUDAH TIGA KALI...

Minta Uang RP 200rb Kepada Sopir Pengangkut Barang Seorang Polisi Nyaris Tewas Di Bacok